Menyelisik Kemunduran Masyarakat Mitologi Modern Indonesia
![]() |
Salah satu indikator utama dari kemunduran masyarakat mitologi modern di Indonesia adalah semakin lemahnya daya ikat simbol-simbol kolektif terhadap kesadaran publik. Dalam masyarakat mitologi modern, simbol seperti Pancasila, Garuda, bahkan sosok tokoh-tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Hatta, memiliki makna yang nyaris sakral dan membentuk imajinasi kolektif bangsa. Kini, simbol-simbol tersebut lebih sering dijadikan alat politisasi dangkal atau sekadar ornamen tanpa makna substantif. Penurunan makna simbolik ini sejalan dengan pendapat Jean Baudrillard (1994) dalam Simulacra and Simulation, yang menjelaskan bahwa dalam masyarakat pascamodern, tanda dan simbol mengalami hiperealitas—yakni lebih nyata dari kenyataan itu sendiri, tapi kehilangan keterkaitannya dengan realitas sosial. Di Indonesia, hal ini terlihat dari banyaknya simbol-simbol nasional yang ditampilkan dalam iklan politik atau media sosial tanpa narasi kritis, yang akhirnya menciptakan ruang kosong dalam kesadaran kolektif.
Selain itu, kemunduran masyarakat
mitologi modern juga tampak dalam krisis narasi besar (grand narrative) yang
dulu menyatukan bangsa. Narasi seperti "Indonesia sebagai bangsa besar
dengan semangat gotong royong" kini cenderung terfragmentasi oleh
narasi-narasi kecil yang dibentuk oleh algoritma media sosial dan kepentingan
ekonomi digital. Kehidupan masyarakat kini lebih diwarnai oleh mitos konsumsi
dan popularitas semu, seperti kepercayaan bahwa kesuksesan adalah identik
dengan jumlah pengikut di media sosial atau gaya hidup ala selebritas digital.
Hal ini menunjukkan bahwa mitos-mitos baru yang terbentuk tidak lagi memiliki
nilai pemersatu atau spiritualitas kolektif, melainkan cenderung
individualistik dan materialistik. Seperti diungkapkan Zygmunt Bauman (2000)
dalam konsep liquid modernity, masyarakat modern kini bergerak dalam
realitas yang cair—tak ada yang stabil, tak ada yang absolut, termasuk mitos.
Mitologi digital pun, meski memiliki daya tarik besar, kehilangan kedalaman
makna dan cenderung bersifat temporer.
Krisis ini juga terjadi di ranah
pendidikan dan kebudayaan. Kurikulum pendidikan nasional tidak lagi secara
serius mendekonstruksi mitos-mitos modern dengan pendekatan kritis. Sebaliknya,
pendidikan cenderung reproduktif, menyajikan tokoh-tokoh dan narasi sejarah
sebagai sesuatu yang beku dan tidak mengundang tafsir. Akibatnya, generasi muda
tidak menginternalisasi nilai-nilai kultural atau simbolisme nasional secara
dinamis, melainkan hanya sebagai hafalan yang tak bermakna. Hal ini diperparah
dengan semakin menurunnya literasi budaya di kalangan generasi muda, sehingga
mereka lebih akrab dengan mitologi budaya pop global (seperti Marvel, K-pop,
atau TikTok trend) daripada mitologi modern Indonesia yang berakar dari sejarah
perjuangan, keberagaman budaya lokal, dan narasi kebangsaan.
"Marilah kita ganti takhyul
dan mistik dengan ilmu dan logika." (Madilog, Tan Malaka). Bagi Tan
Malaka, pendidikan adalah alat utama untuk membongkar mitos dan menggantikannya
dengan pemikiran ilmiah. Ia mengusulkan pendidikan berbasis materialisme dan
dialektika sebagai alternatif terhadap pendidikan kolonial maupun pendidikan
tradisional yang menurutnya kental dengan mitos dan dogma. Ia percaya bahwa
revolusi sejati tidak hanya terjadi secara politik, tapi juga di tingkat
epistemologis: mengganti mitos dengan logika, mengganti dogma dengan
dialektika. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari hegemoni kapitalisme global
yang menciptakan struktur dominasi melalui budaya populer dan digitalisasi.
Antonio Gramsci (1971) menyebut ini sebagai hegemoni kultural, yaitu ketika
kelas dominan tidak lagi menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kuasa,
tetapi justru mengontrol kesadaran melalui ideologi dan simbol-simbol budaya.
Di Indonesia, kapitalisme digital
yang merasuk lewat media sosial, platform hiburan, dan konten viral telah
menggantikan posisi mitos-mitos nasional sebagai acuan nilai. Dalam masyarakat
yang demikian, orang lebih percaya pada narasi influencer ketimbang tokoh
pemikir atau pemimpin nasional. Akibatnya, struktur nilai bergeser, dan
masyarakat menjadi konsumen narasi yang dangkal namun repetitif. Menyelisik
kemunduran ini bukan berarti menolak modernitas atau mitologi baru, melainkan
mendorong pembaruan cara kita memahami mitos dalam konteks kekinian. Diperlukan
reaktivasi mitologi modern Indonesia yang tidak hanya menggantungkan diri pada
simbol lama, tapi juga menciptakan narasi baru yang relevan dan partisipatif.
Misalnya, membangun kembali narasi kebangsaan melalui seni digital, film, atau
ruang diskusi daring yang mengedepankan pemaknaan ulang terhadap simbol
nasional. Narasi-narasi alternatif semacam ini harus berakar pada konteks lokal
dan pengalaman sehari-hari masyarakat agar mitos tidak hanya menjadi warisan,
tapi juga ruang negosiasi identitas yang hidup dan terus berkembang.
Referensi:
- Barthes,
Roland. Mythologies. Paris: Seuil, 1957.
- Baudrillard,
Jean. Simulacra and Simulation. University of Michigan Press, 1994.
- Bauman,
Zygmunt. Liquid Modernity. Polity Press, 2000.
- Gramsci,
Antonio. Selections from the Prison Notebooks. International
Publishers, 1971.
- Malaka,
Tan. Madilog. Buku Seru, Catatan
Ke 20. 2024

Komentar
Posting Komentar