Menyelisik Kemunduran Masyarakat Mitologi Modern Indonesia


        Di tengah kemajuan teknologi dan transformasi budaya global, masyarakat Indonesia tengah mengalami gejala yang menarik sekaligus mengkhawatirkan: kemunduran masyarakat mitologi modern. Kemunduran ini bukan sekadar melemahnya kepercayaan terhadap mitos tradisional, tetapi lebih kompleks karena berkaitan dengan bergesernya cara pandang kolektif masyarakat terhadap simbol, nilai, dan narasi yang membentuk identitas kultural mereka. Masyarakat mitologi modern, sebagaimana dijelaskan oleh Roland Barthes (1957) dalam Mythologies, adalah masyarakat yang tidak lagi hidup dalam mitos-mitos religius atau animistik kuno, melainkan menciptakan mitos-mitos baru dalam bentuk simbol modern seperti bendera, tokoh idola, media, bahkan gaya hidup. Di Indonesia, mitos-mitos modern ini pernah tumbuh subur dalam bentuk nasionalisme simbolik, pemujaan terhadap tokoh publik, dan pembentukan narasi besar melalui media massa. Namun, saat ini, keberadaan mitos-mitos modern itu justru mengalami krisis makna karena tekanan ganda dari kapitalisme digital dan krisis identitas kultural.

Salah satu indikator utama dari kemunduran masyarakat mitologi modern di Indonesia adalah semakin lemahnya daya ikat simbol-simbol kolektif terhadap kesadaran publik. Dalam masyarakat mitologi modern, simbol seperti Pancasila, Garuda, bahkan sosok tokoh-tokoh nasionalis seperti Soekarno dan Hatta, memiliki makna yang nyaris sakral dan membentuk imajinasi kolektif bangsa. Kini, simbol-simbol tersebut lebih sering dijadikan alat politisasi dangkal atau sekadar ornamen tanpa makna substantif. Penurunan makna simbolik ini sejalan dengan pendapat Jean Baudrillard (1994) dalam Simulacra and Simulation, yang menjelaskan bahwa dalam masyarakat pascamodern, tanda dan simbol mengalami hiperealitas—yakni lebih nyata dari kenyataan itu sendiri, tapi kehilangan keterkaitannya dengan realitas sosial. Di Indonesia, hal ini terlihat dari banyaknya simbol-simbol nasional yang ditampilkan dalam iklan politik atau media sosial tanpa narasi kritis, yang akhirnya menciptakan ruang kosong dalam kesadaran kolektif.

Selain itu, kemunduran masyarakat mitologi modern juga tampak dalam krisis narasi besar (grand narrative) yang dulu menyatukan bangsa. Narasi seperti "Indonesia sebagai bangsa besar dengan semangat gotong royong" kini cenderung terfragmentasi oleh narasi-narasi kecil yang dibentuk oleh algoritma media sosial dan kepentingan ekonomi digital. Kehidupan masyarakat kini lebih diwarnai oleh mitos konsumsi dan popularitas semu, seperti kepercayaan bahwa kesuksesan adalah identik dengan jumlah pengikut di media sosial atau gaya hidup ala selebritas digital. Hal ini menunjukkan bahwa mitos-mitos baru yang terbentuk tidak lagi memiliki nilai pemersatu atau spiritualitas kolektif, melainkan cenderung individualistik dan materialistik. Seperti diungkapkan Zygmunt Bauman (2000) dalam konsep liquid modernity, masyarakat modern kini bergerak dalam realitas yang cair—tak ada yang stabil, tak ada yang absolut, termasuk mitos. Mitologi digital pun, meski memiliki daya tarik besar, kehilangan kedalaman makna dan cenderung bersifat temporer.

Krisis ini juga terjadi di ranah pendidikan dan kebudayaan. Kurikulum pendidikan nasional tidak lagi secara serius mendekonstruksi mitos-mitos modern dengan pendekatan kritis. Sebaliknya, pendidikan cenderung reproduktif, menyajikan tokoh-tokoh dan narasi sejarah sebagai sesuatu yang beku dan tidak mengundang tafsir. Akibatnya, generasi muda tidak menginternalisasi nilai-nilai kultural atau simbolisme nasional secara dinamis, melainkan hanya sebagai hafalan yang tak bermakna. Hal ini diperparah dengan semakin menurunnya literasi budaya di kalangan generasi muda, sehingga mereka lebih akrab dengan mitologi budaya pop global (seperti Marvel, K-pop, atau TikTok trend) daripada mitologi modern Indonesia yang berakar dari sejarah perjuangan, keberagaman budaya lokal, dan narasi kebangsaan.

"Marilah kita ganti takhyul dan mistik dengan ilmu dan logika." (Madilog, Tan Malaka). Bagi Tan Malaka, pendidikan adalah alat utama untuk membongkar mitos dan menggantikannya dengan pemikiran ilmiah. Ia mengusulkan pendidikan berbasis materialisme dan dialektika sebagai alternatif terhadap pendidikan kolonial maupun pendidikan tradisional yang menurutnya kental dengan mitos dan dogma. Ia percaya bahwa revolusi sejati tidak hanya terjadi secara politik, tapi juga di tingkat epistemologis: mengganti mitos dengan logika, mengganti dogma dengan dialektika. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari hegemoni kapitalisme global yang menciptakan struktur dominasi melalui budaya populer dan digitalisasi. Antonio Gramsci (1971) menyebut ini sebagai hegemoni kultural, yaitu ketika kelas dominan tidak lagi menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kuasa, tetapi justru mengontrol kesadaran melalui ideologi dan simbol-simbol budaya.

Di Indonesia, kapitalisme digital yang merasuk lewat media sosial, platform hiburan, dan konten viral telah menggantikan posisi mitos-mitos nasional sebagai acuan nilai. Dalam masyarakat yang demikian, orang lebih percaya pada narasi influencer ketimbang tokoh pemikir atau pemimpin nasional. Akibatnya, struktur nilai bergeser, dan masyarakat menjadi konsumen narasi yang dangkal namun repetitif. Menyelisik kemunduran ini bukan berarti menolak modernitas atau mitologi baru, melainkan mendorong pembaruan cara kita memahami mitos dalam konteks kekinian. Diperlukan reaktivasi mitologi modern Indonesia yang tidak hanya menggantungkan diri pada simbol lama, tapi juga menciptakan narasi baru yang relevan dan partisipatif. Misalnya, membangun kembali narasi kebangsaan melalui seni digital, film, atau ruang diskusi daring yang mengedepankan pemaknaan ulang terhadap simbol nasional. Narasi-narasi alternatif semacam ini harus berakar pada konteks lokal dan pengalaman sehari-hari masyarakat agar mitos tidak hanya menjadi warisan, tapi juga ruang negosiasi identitas yang hidup dan terus berkembang.

Referensi:

  • Barthes, Roland. Mythologies. Paris: Seuil, 1957.
  • Baudrillard, Jean. Simulacra and Simulation. University of Michigan Press, 1994.
  • Bauman, Zygmunt. Liquid Modernity. Polity Press, 2000.
  • Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. International Publishers, 1971.
  • Malaka, Tan. Madilog. Buku Seru, Catatan Ke 20. 2024

 

Komentar

Postingan Populer