Membaca Sebagai Kebutuhan Primer : Buku-Buku Bukan Objek Kontestasi Kecerdasan Personal
Di sudut-sudut kafe ataupun warung kopi, di ruang diskusi kampus, atau di lini masa media sosial, kita sering menjumpai sosok yang seakan-akan meyakinkan ketika berbicara dengan referensi, mengutip para filsuf, menyebut nama-nama besar seperti Nietzsche, Marx, atau Foucault seolah mereka teman diskusi harian. Namun, di balik kerlap-kerlip intelektual itu, ada satu hal yang justru menggelikan, yaitu seseorang merasa pintar hanya karena telah membaca banyak buku.
Di dalam psikologi kognitif, dikenal sebuah gejala yang disebut Efek Dunning-Kruger, dikemukakan oleh David Dunning dan Justin Kruger pada 1999. Teori ini menyebut bahwa orang-orang dengan pengetahuan minim cenderung melebih-lebihkan kompetensinya sendiri, karena kurangnya kesadaran untuk menyadari batas-batas pengetahuannya. Seseorang yang baru saja selesai membaca satu-dua buku tentang filsafat bisa merasa lebih "tercerahkan" dibanding orang lain yang tidak membacanya—lalu merasa dirinya lebih pintar. Inilah jebakan awal kebodohan intelektual, dimana kesadaran semu membuat seseorang tidak lagi membuka ruang belajar, justru menutup diri dengan tameng intelektualisme. Seperti yang pernah dikatakan Socrates “The only true wisdom is in knowing you know nothing” Justru kebijaksanaan sejati lahir dari kesadaran akan ketidaktahuan, bukan dari pengakuan akan seberapa banyak buku yang telah ditamatkan.
Ketika pengetahuan tidak lagi dimaknai sebagai alat pembebasan, tetapi sebagai alat kekuasaan untuk mengukuhkan ego, maka buku hanya menjadi aksesori kesombongan. Seorang yang benar-benar berpengetahuan tidak akan menjadikan pemahamannya sebagai alasan untuk meremehkan yang lain. Paulo Freire, tokoh pendidikan dari Brasil yang terkenal dengan bukunya Pedagogy of the Oppressed. Freire menyebut pentingnya kesadaran kritis (conscientização) yakni proses di mana seseorang tidak hanya mengetahui fakta, tetapi juga memahami relasi kuasa, struktur sosial, dan kondisi yang melingkupinya.
Bagi Freire, membaca buku bukanlah tujuan akhir. “Reading the word must be preceded by reading the world” katanya. Kita tidak cukup hanya membaca teks, kita juga harus membaca konteks. Tanpa ini, seseorang bisa menjadi pembaca yang hebat, tapi tetap gagal menjadi manusia yang sadar dan membebaskan.
Akhirnya, Siapa yang Sebenarnya Bodoh?
Kita sering menyamakan pengetahuan dengan kepintaran dan kepintaran dengan kebenaran. Tapi nyatanya, semakin banyak yang kita ketahui, seharusnya semakin sadar kita akan keterbatasan diri. Orang yang merasa pintar karena membaca buku hanyalah menggeser bentuk kebodohannya ke ranah yang lebih rapi dan terkesan akademis.
Ketika membaca buku tidak membuat kita lebih rendah hati, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih bijaksana dalam menyampaikan pendapat—maka pengetahuan itu belum benar-benar masuk ke dalam diri kita. Orang pintar sejati bukan yang paling banyak berbicara, tapi yang tahu kapan harus diam, mendengar, dan berpikir ulang. Karena sejatinya, seperti kata filsuf Immanuel Kant, "Sapere aude!” beranilah berpikir sendiri. Tapi jangan berhenti sampai di situ beranilah pula untuk mengkritisi pikiranmu sendiri.


Komentar
Posting Komentar